Multidisipliner dan Interdisipliner Ilmu

Tampilkan postingan dengan label Sosial & Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial & Politik. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Maret 2019

Strategi Distribusi Kesejahteraan untuk Ummat Islam pada Umumnya dan Lulusan UIN serta IAIN pada Khususnya


Kita mulai dari sudut pandang bisnis, jika organisasi bisnis kita sedang sulit, uang kas perusahaan mengering, modal yang sangat terbatas, aset mesin dan peralatan yang kita miliki masih sedikit, maka pada situasi seperti ini, kita memerlukan kreativitas tingkat tinggi. Dan kreativitas bisnis yang paling utama itu adalah MEMANFAATKAN apa yang kita miliki hari ini. Usability-nya atau penggunaan harus kita maksimalkan.

Misalnya kita punya mesin yang beroperasi 10 jam sehari, mari kita berfikir bagaimana bisa beroperasi 20 jam sehari agar lebih produktif.

Misalnya kita punya ruko 3 lantai, lantai 1 outlet, lantai 2 kantor, lantai 3 kosong, maka mari kita berfikir untuk memaksimalkan semua lantai agar menghasilkan REVENUE atau pemasukan. Kalo perlu kantor pindah ke rumah kontrakan, ruko pinggir jalan tersebut, 3 lantainya kita buat bisnis.

Lantai 1 Outlet Makanan
Lantai 2 Bimbel
Lantai 3 Fitness Muslimah
Misalnya begitu.

Ini pulalah yang harus kita fikirkan dalam membangun kekuatan ekonomi di tubuh ummat islam, jangan sampai kita malah membelanjakan kekuatan dana pada tempat yang tidak semestinya.

Saya ambil contoh, ketika kita bicara tentang pendidikan tingkat tinggi, kita berbicara tentang kampus. Dan ketika kita berbicara tentang biaya kuliah, porsi uang masuk dan uang gedung menjadi bagian paling besar.

Sementara, ummat islam ini memiliki 800.000++ gedung (data dari Dewan Masjid Indonesia) yang hanya dipakai 5 jam per hari. Gedung itu bernama : MASJID.

Disinilah awal mula ide pemberdayaan Masjid sebagai asset ummat islam. Dari pondasi pemikiran ini, kita harus kembali memaknai... sudah sejauh mana kita MEMANFAATKAN 800.000++ asset berharga ummat islam ini???.

***

Narasi tentang pemberdayaan masjid ini akan Saya sampaikan secara runut.

Pertama, optimalisasi MASJID sebagai SARANA IBADAH.

Kedua, optimalisasi MASJID sebagai TITIK MANAJEMEN UMMAT ISLAM.

Ketiga, optimalisasi MASJID sebagai ASSET FISIK UMMAT ISLAM.

***

Kita masuk pada PEMIKIRAN PERTAMA, sudut pandang MASJID sebagai SARANA IBADAH.

Ketahuilah, Masjid biasanya dibangun secara bersama-sama oleh warga, walaupun ada masjid yang memang dibangun oleh pribadi. Perbedaan yang nampak nyata adalah... masjid yang dibangun oleh kekuatan publik biasanya lemah pada pengelolaan, dan masjid yang dibangun personal biasanya terkelola baik.  Sederhananya, karena ada sponsor personal yang terus menyuplai kebutuhan perawatan masjid.

Pada ruang pemikiran pertama ini, Saya lebih memodelkan masjid yang memang dibangun bersama.

Masjid yang dibangun bersama berarti dimiliki bersama, dimiliki oleh warga. Artinya ia adalah milik ummat islam secara umum. Didalam bisnis, ummat islam menjadi "OWNER" dari masjid.

Tapi disisi lain, masjid juga dituntut melayani ibadah jamaah, maka ummat juga berada pada posisi "MARKET" dalam waktu yang bersamaan.

Yang biasanya belum ada yang namanya "Dewan Eksekutif" yang memang menjalankan masjid secara profesional. Dewan direksi beserta jajarannya pun belum ada.

Sebagian masjid membentuk Dewan Kepengurusan Masjid (DKM), dan DKM secara sukarela menyisihkan waktu untuk mengurus masjid. Pada pengurus DKM yang usianya masih kategori produktif, dalam hal ini kegiatan mengurus masjid tidak bisa menjadi aktivitas utama, karena harus bekerja dan berbisnis mencari nafkah. Akhirnya mengurus masjid menggunakan waktu sisa.

Jika para pensiunan atau bapak/ibu yang sudah lanjut usia yang  mewarnai DKM, aura eksekusinya juga tidak bisa diharapkan cepat, karena natural organisasi itu dijalankan oleh usia produktif. (Dengan tetap menghargai para pensiunan yang menjadi DKM)

Maka, perlu digagas dewan eksekutif yang profesional dalam kepengurusan masjid. Dewan eksekutif yang masih Muda, berkapasitas, punya kapabilitas, dan memang full dedikasinya untuk mengurusi masjid.

Akhirnya, ada Owner beserta jajaran komisaris dan ada CEO beserta jajaran eksekutornya.

Ide gila nya disini : 1 masjid, harus dikelola oleh 1 CEO profesional dengan kepuasan jamaah sebagai Key Performance Indicator nya.

1 CEO (Chief Executive Officer)
1 Direktur Operasional Ibadah
1 Direktur Keuangan
1 Direktur Komunikasi dan Media
1 Direktur ZISWAF (Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Wakaf)
1 Direktur Pembinaan Jamaah
1 Direktur General Affair

Jadi, 1 orang CEO... 6 orang Direktur ... 7 orang BOD (Board Of Director) total semuanya. 1 direktorat bisa merekrut lagi 5 staff. Akhirnya 1 masjid bisa menyerap 37 tenaga kerja.

Bayangkan angka 800.000 masjid x 37 tenaga pengelola. Anggaplah dengan masjid kecil, menjadi 20 pengelola per masjid, berarti untuk ranah pelayanan masjid saja, terbuka 16 juta lebih lapangan kerja baru.

Turunan dari cara kerja seperti ini akan sehat. Bapak-bapak DKM tetap elegan menjadi pengurus DKM. Bapak-bapak akan menjadi Owner dan mengawasi kerja jajaran eksekutif. Ini mirip Owner bisnis ngontrol pekerja.

Kan memang iya, uang ummat menggaji CEO+teamnya dan mereka kembali melayani ummat, diawasi oleh perwakilan ummat... share holders..., namanya DKM.

Selanjutnya, SDM atau lulusan UIN, IAIN, Pondok Pesantren dan Universitas Timur Tengah yang sudah belajar diinul Islam, Quran, Hadist, Dakwah, dan sejenisnya akan terberdayakan dengan baik. Jika 1 masjid butuh 1 Imam hafidz dan terdidik, maka kita bisa menyerap 800.000 hafidz, 800.000 Imam Masjid, 800.000 Muadzin.

Saya tau betul bahwa IAIN Tulungagung kesulitan mendistribusikan lulusannya di dunia kerja. Industri yang mau menerima lulusan IAIN sangat sedikit. Apalagi dari jurusan di FUAD. Saya rincikan dan akan menjadi solusi untuk IAIN Tulungagung.

SDM yang Jurusan Manajemen Bisnis Syariah dari FEBI bisa menjadi CEO,

SDM yang Jurusan Manajemen Dakwah dari FUAD bisa menjadi Direktur Operasional Ibadah,

SDM yang Jurusan Akuntansi Syariah atau Manajemen Keuangan Syariah dari FEBI bisa menjadi Direktur Keuangan,

SDM yang Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam dari FUAD, bisa menjadi Direktur Komunikasi dan Media,

SDM yang Jurusan Manajemen Zakat dan Wakaf dari FEBI bisa menjadi Direktur ZISWAF,

SDM yang Jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam dari FUAD bisa menjadi Direktur Pembinaan Jamaah,

SDM yang Jurusan Sosiologi Agama dari FUAD bisa menjadi Direktur General Affair.

Itu baru bicara dari sebagian kecil dari Jurusan di FUAD dan FEBI, belum bicara yang lain. Jurusan Ilmu Al-Quran dan Tafsir, Aqidah dan Filsafat Islam, Tasawuf dan Psikoterapi, Bahasa dan Sastra Arab, Sejarah Peradaban Islam, Psikologi Islam, Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam, Ilmu Hadits, Perbankan Syariah, dan Ekonomi Syariah bisa masuk ke jajaran Staff dibawah 7 BOD atau direktorat diatas.

Semua terberdayakan. Khsusus untuk Direktorat Pembinaan Jamaah akan saya sampaikan detail di poin ketiga.

**

Kita masuk pada PEMIKIRAN KEDUA, sudut pandang MASJID sebagai TITIK MENAJEMEN UMMAT ISLAM.

Jika kita bicara manajemen, kita bicara tentang SIAPA yang kita kelola dan BAGAIMANA, mau di- APA -kan.

Jika kita hadir ke sebuah masjid, dan hadir ke jajaran DKM, mari tanyakan hal ini :

1. Berapa KK yang dilayani oleh masjid ini.
2. Ada berapa laki-laki dewasa yang telah sadar menjadi jamaah ini, nama, usia, profesi, keahlian, dan rumahnya dimana.
3. Berapa anak-anak muslim yang harus menjadi perhatian masjid ini.
4. Berapa muslimah...

Terus.. terus dan terus.. data.. data.. dan data.. dan saya yakin.. datanya tidak ada. Kecuali memang masjidnya profesional.

Saya ingin membuka mata anak bangsa : Jumlah kelurahan dan desa di Negeri ini, menurut data BPS 2016, itu ada 82.030. Ada selisih dengan data lain, tapi bisa dibilang 80.000 an.

Jika jumlah masjid ada 800.000 dan jumlah desa kelurahan ada 80rb, berarti 1 desa/kelurahan terdapat 10 masjid. Sebuah proporsi yang pas untuk manajemen ummat.

Mari kita bayangkan,....

Islam menuntun shalat berjamaah 5 waktu di masjid. Berarti ada sekumpulan laki-laki baligh dewasa yang "meet up" 5x sehari. Anehnya, meet up 5x sehari... tetapi hampir tidak ada sinergi yang terjadi. Yang nganggur tetap nganggur, yang sulit kuliah tetap sulit kuliah. Aneh bukan?

Konsep masjid sebagai wahana manajemen ummat, dalam benak Saya adalah benar-benar mengurus dan mensinergikan seluruh kekuatan yang ada dalam tubuh ummat.

Masjid memutuskan sejauh mana rentang wilayah layanannya. Petakan. Tarik area pake spidol. Arsir. Ini wilayah layanan masjid A. Ini wilayah layanan masjid B. Clear.

Lalu masjid mendata seluruh kaum muslimin pada area tersebut, pokoknya yang muslim didata. Mau ke mesjid atau tidak, harus menjadi target layanan masjid. Kan dimandikan dan disholatkannya disitu toh?. Umumnyaaaaa….

Dari data ini akan terbaca, tingkat pendidikan, keahlian, engagement dengan masjid, bahkan sampai kebutuhan dan masalah yang sedang dihadapi.

Lucu donk, ada anak muda bolak balik 5 waktu ke masjid, 5 bulan nganggur, sementara di mesjidnya ada pengusaha yang punya bisnis 100 outlet. Ini gak lucu blasss.

Lucu donk, ada jamaah yang bingung nyari guru private Matematika atau Bahasa inggris untuk anaknya, sementara sarjana matematika dari juruan Tadris Matematika bolak balik berjamaah disebelah si bapak.

Pendataan ini adalah fungsi manajamen dan dengan begini... CEO masjid tidak hanya berfikir proses ibadah berjalan baik, tetapi juga beliau memiliki LIST UMMAT yang harus dilayani. Makanya wajar SDM dedicated, karena kerjanya full time.

- bapak itu sudah dapat kerjaan belum?
- ibu itu single parent butuh dicarikan suami nggak?
- anak keluarga itu pinter tapi kok gak kuliah kenapa?
- adek itu kok masih nganggur aja.
- mas itu bisnis kayaknya kurang modal.
Hayuk.. masjid bantu.. kira-kira jamaah kita ada yang punya solusi gak ya?

Bahasan-bahasan seperti ini harusnya menjadi wahana kerja setiap BOD masjid di 800.000 masjid yang ada. Bayangkan... saya membayangkan saja merinding.

Konsep pelayanan seperti ini akan menarik kekuatan donasi ummat lebih besar. Karena ada programnya be-RESONANSI. Ummat Islam Indonesia ini mudah, selama ada program, urunan jalan. Gampang. Asal konkret, komunikasi baik. Semua akan mengalir.

Dengan begini, potensi kekuatan ummat akan hadir. Setiap warga muslim yang terdaftar di masjid tertentu akan terperhatikan. Ikatan-ikatan sosial kita sebagai ummat akan kokoh. Karena masjid hadir bukan hanya sebagai fungsi fisiknya, tetapi fungsi intrinsiknya : MELAYANI KEBUTUHAN UMMAT ISLAM.

***

Kita masuk pada PEMIKIRAN KETIGA, sudut pandang MASJID sebagai ASSET FISIK UMMAT ISLAM.

Mari rasakan, jika Anda berbisnis, Anda pasti memahami usability. Tingkat kegunaan asset yang Anda punya.

Masjid yang dibangun oleh sebagian besar ummat ini, relatif HANYA digunakan 5 waktu dalam sehari. Itu saja. Jika dari adzan hingga selesai dzikir dan doa itu anggaplah 1 jam, maka masjid hanya digunakan 5 jam dari 24 jam yang ada.

Anda punya pabrik, dipakai 5 jam saja.
Anda punya warung, buka 5 jam saja.
Anda punya mesin fotokopi, bekerja 5 jama saja.
Bagaimana perasaan Anda?

Ratusan bahkan miliaran rupiah UANG UMMAT sudah di investasikan untuk bangun masjid, tetapi dipakai hanya 5 jam bahkan kurang per hari. Bagaimana perasaan Anda? Bagaimana guncangan fikiran Anda saat ini?

Dari pemikiran ini, sahabat muslim dengan fikiran pemberdaya, tidak boleh mengijinkan hal ini terjadi. Mubazir.

Mari tantang fikiran kita.

Setelah subuh, masjid lengang mulai pukul 07.00. Coba kita bikin program :

07.00 s/d 09.00 : ruang utama masjid jadi wahana kelas hafalan quran untuk remaja yang belum kerja, masih nunggu kuliah, atau memang bisnis, entrepreneur waktunya bebas.

09.00 sd 11.30 : masjid menjadi kampus. Buka kelas non formal. Bikin silabus. Pengajar cari relawan. Masjid dipakai gratis. Berarti mahasiwanya bisa gratis. Ini solusi pendidikan.

Pada jam ini, ibu-ibu relatif sudah antar anak ke sekolah. Bisa dilakukan taklim ibu-ibu. Jika tidak, selasar masjid menjadi wahana pengajaran bikin roti, menyulam, kerajinan, bahkan kejar paket A, B, C. Apa aja... yang penting manfaat untuk ummat.

13.00 sd 15.00 : mata kuliah kedua. Untuk masjid kampus. Selasar bisa adakan kegiatan lain.

16.00 sd 17.00 : TPQ dihidupkan, jika sudah banyak anak-anak yang sekolah di SDIT, bisa jadi sekolah Quran untuk jamaah dewasa.

20.00 keatas : dirosah islami, ajarkan ummat shiroh, hadist, fiqh, selesai jam 21.00. Majelis cair terbuka setiap malam.

Pertanyaannya, yang ngajar siapa, SDM nya mana...

kan ada nomor 2 diatas. Masjid banyak uang. Manajemen kokoh. Ada SDM dedicated. SDM pengajar bisa dibayar secara professional dari Lulusan Pondok Pesantren, Fakultas Dakwah UIN, IAIN, dan Universitas Timur Tengah. Dan akan sangat layak.

Intinya mari kita maksimalkan. Bahkan lebih dahsyat lagi, malam harinya bisa gunakan area tertentu untuk tempat inap musafir atau sahabat tunawisma. Kenapa nggak? Semacam shelter inap semalam.

Ambil satu space, lapisi karpet khusus, beri hijab pembatas, jadikan masjid ramah musafir, ramah orang lemah. Disitulah da'wah akan terasa sangat mendalam dihati ummat.

Anak-anak muda bisa wifi-an di masjid. Block aja konten yang negatif.

Beri space berkumpul dan bercengkarama di masjid. Masjid ramah pertemuan.

Ada area masjid untuk playground anak-anak balita. Biar akrab sama masjid, dan saat shalat fardhu dijaga baby sitter khusus. Digaji oleh masjid.

Masjid menjadi tempat bimbel, pelatihan bisnis, diskusi, meet up, yang gak boleh kan jualan di dalam masjid. Pekarangan boleh kayaknya. Banyak koperasi di komplek mesjid kok.

Intinya gunakan. Jangan begitu mau digunakan, ada info : "adik-adik remaja masjid pake acaranya di selasar ya, soalnya karpet masjidnya baru beli"

Ya Salaammm... ini terjadi... aseli... karpet dibelain.. generasi muda Islam gak dikasih tempat... YA Rabb...

**

Tulisan Saya apa adanya. Saya sudah memaksimalkan diri sesopan dan sesantun mungkin.

Karakteristik ummat Islam Indonesia ini "wait and see". Mereka tidak begitu cepat dan inisiatif membangun sesuatu. Pemalu, gak enakan, takut konflik, malas ngasih saran. Keranan masjid bocor aja gak ada yang berani ngasih masukan.

Tetapi ketika ruang-ruang kolaborasi dan sinergi dibuka, maka kekuatan akan datang. Ketika pelayanan jelas terasa, donasi akan hadir berlimpah.

Sama seperti bisnis. Maaf banget. Logika ini harus saya sampaikan.

Jika perusahaan Anda jasa layanannya baik, maka market akan berulang beli layanan Anda. Jika tidak. Market tidak repeat.

Saya merasakan sendiri, jika sebuah masjid progressnya baik, terawat, ekosistem pengelolaannya terasa, maka kita pasti mau dukung maksimal.

Saya secara pribadi berharap, tulisan ini bisa mendorong banyak DKM untuk berbenah diri. Kemudian melangkah berani membangun sistem layanan profesional pada masjid. Dan kemudian menyadarkan ummat Islam, untuk kemudian MENGINDUK ke masjid-masjid terdekat. Shalatlah fardhu di masjid, dan bangunlah ikatan sosial sesam ummat Islam.

Perlu ada keberanian membayar 1 CEO masjid senilai 15 juta rupiah per bulan, ketika memang beliau mampu membangun layanan untuk 1.000 KK muslim, dengan raihan donasi 1M per bulan, baik dari jamaah, donatur corporate atau bisnis tertentu ataupun amal usaha masjid. Kenapa tidak?

Jika masjid melakukan 3 fungsi diatas, maka secara cepat kita akan meningkatkan kualitas pendidikan ummat, kualitas ekonomi ummat dan kualitas sosial ummat.

Ummat Islam yang 200 juta lebih ini akan ter urus baik melalui kehadiran masjid-masjidnya yang menjadi simpul layanan sosial.

Pada keadaan yang cukup gelap dan kemakmuran masjid masih menjadi persoalan, maka Saya menyebut masjid sebagai 800.000 titik cahaya.

Teranglah wahai bangsa ku.... nyalakan cahayamu...

****

Terinspirasi dari MASJID JOGOKARYAN, JOGJAKARTA . MASJID MUNZALAN MUBARAKKAN, PONTIANAK. MASJID NAMIRA, LAMONGAN.
Jamaah Shalat Subuhnya selalu penuh.
Share:

Jumat, 07 Desember 2018

MELAWAN TATANAN ZALIM (2)

Judulnya Copy Paste dari tulisan kang Rendy Saputra.

Isinya dijamin Beda tapi nyambung. Silahkan disimak.

******




Saat bicara mengenai ekonomi tentu kita tidak bisa lepas dengan yang namanya kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Lantas bagaimana kontribusi SDM kita terhadap kemajuan ekonomi negeri???

Banyak pertanyaan di benak saya mengapa begitu banyak Sarjana Teknik, akan tetapi mengapa Teknologi di negeri ini masih import???

Banyak pertanyaan di benak saya mengapa banyak Sarjana Ekonomi dan Bisnis, akan tetapi mengapa Ekonomi negeri ini tetap saja lambat pertumbuhannya???

Dahulu bisa sekolah dan kuliah itu istimewa. Sekarang semakin banyak Sarjana yang berpendidikan akan tetapi seperti sangat sedikit impactnya bagi bangsa. Mengapa ???

******

Pertanyaan-pertanyaan diatas pelan-pelan mulai terjawab. Kita ulas sejarah dulu ya. Masih sama topiknya dengan milik Kang Rendy Saputra. Saya ulas dari sudut berbeda.

VOC atau pemerintahan Hindia Belanda dahulu sangat kuat dalam memonopoli apapun. Termasuk Sumber Daya Manusia kita.

Seperti diketahui bersama, banyak tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan malah berasal dari Sekolah milik Belanda. Sukarno, Hatta, dan yang lainnya.

Setiap sekolah yang didirikan Belanda punya tujuan yang berbeda-beda. Secara umum fungsi dan sekolah itu sama, yaitu mempelajari sesuatu. Puzzle di dalam sekolah meliputi Apa yang dipelajari, Tujuan Belajar, Siapa yang belajar, dan Cara belajarnya pun bisa berbeda.

Awalnya pemerintah Belanda hanya mendirikan sekolah untuk orang Belanda saja. Sampai suatu ketika pihak Belanda kebingungan untuk mencari tenaga kerja untuk pemerintahan yang dijalankan Belanda di nusantara. Tenaga kerja yang dibutuhkan adalah yang bisa diberikan upah murah. Tenaga kerja yang dibutuhkan terutama sebagai Juru Tulis.

Untuk bisa menjadi pegawai di pemerintahan Hindia Belanda, seseorang haruslah bisa membaca, menulis, dan berhitung. Spesifikasi yang dibutuhkan harus mempunyai keterampilan yang lumayan dan juga teliti serta tidak banyak protes dan kritis (Agar mau dibayar murah).

Pemerintahan Hindia Belanda mendirikan sekolah untuk mendidik beberapa pribumi agar siap bekerja sebagai pegawai Belanda yang penurut dan mendukung penjajahan di bumi Nusantara. Sekarang sisa mental ini masih ada. Di kalangan masyarakat kita, belum keren kalau belum menjadi pegawai yang berseragam. Yessss. Sejarah lah yang membentuk pemahaman doktrin yang mendarah daging itu sampai sekarang.

*****

Kembali ke pertanyaan saya pada pembukaan tulisan saya ini. Mari kita jawab satu persatu.

Kita pahami dulu keadaan kita sekarang ya.

Tidak terbantahkan lagi bahwa sebenarnya banyak corporate besar di negeri ini bukan milik anak negeri. Modalnya milik asing.

Untuk mengurangi beban Gaji mahal apabila menggunakan tenaga kerja diluar Indonesia, maka corporate besar ini menuntut institusi pendidikan kita untuk memberikan output tenaga kerja mumpuni untuk menjalankan proses bisnis mereka.

Di Negeri ini sudah banyak Sarjana Teknik dan Teknokrat yang bahkan kemampuan dan keahliannya di akui Dunia. Prof. Habibie misalnya. Tapi kenapa kita ketergantungan terhadap teknologi dari luar masih kuat?. Jawabannya adalah karena para lulusan sarjana teknik ini di desain untuk bekerja di Industri. Bukan sebagai creator teknologi. Kurikulum Fakultas Teknik di desain menyiapkan tenaga kerja untuk membantu proses Bisnis di sisi teknologi nya. Dari mana saya tahu? Saya lulusan Fakultas Teknik di salah satu kampus Negeri. Sangat terasa saat Industri corporate besar itu membuka job fair maka akan diserbu para lulusan Fakultas Teknik ini. Putra putri terbaik bangsa yang capek2 belajar Engineer ini dipenjara dalam bingkai yang namanya penyerapan tenaga kerja. Posisinya pun kebanyakan hanya mentok di bottom manajemen. Memang ada yang di TOP Manajemen. Gak banyak. Ekosistem memang memaksa dan di desain seperti ini.

Inilah jawabannya kita hanya sebagai pengekspor bahan baku. Seharusnya para Engineer ini lah yang memikirkan bagaimana mengolah bahan baku menjadi barang yang memiliki Value tinggi. Memang di desain begitu para Engineer kita ini. Kalaupun di Industri pengolahan ya para Engineer ini sebagai pekerja. Industri juga milik Mereka-mereka juga. Hmhhhh. Perihhh memang.

Saya kuliah di Fakultas Teknik 2 kali, yang satunya sekarang masih semester 7 di salah satu Universitas Swasta. Doktrinnya lebih unik. Kami dijanjikan kalau lulus gampang di terima kerja. Karena Akreditasi sudah B. Yaelaaahhh ini Fakultas Teknik kok gak ngajak kita mencipta sih. Ya bukan salah kampus. Memang begini Desain TATANAN DUNIA untuk orang Indonesia.

Ini yang bikin miris, banyak sarjana lulusan Fakultas Bisnis atau Ekonomi tidak memiliki kemampuan berbisnis. Bahkan lulus gak ngerti gimana cara berbisnis. Saya urai kan bagaimana kondisi di dalam proses belajar mengajar di kelas. Kebetulan saya ini orang "gila" yang juga merupakan mahasiswa Jurusan Manajemen Bisnis Syariah.

Seperti di tulisan Kang Rendy kalau Entrepreneurship ini adalah cara perang kita paling efektif untuk melawan VOC gaya baru.

Ini menurut pengalaman saya lho yaaa, tapi sepertinya kurang lebih sama. Karena dosen saya juga dari berbagai Universitas di Indonesia. Saya berkesimpulan kalau Materi yg disampaikan sama, ya berarti di asal Universitas dosen saya juga sama saja. Tp, bukan bermaksud men-Generalisir semua Fakultas Ekonomi dan Bisnis lho yaaa.

Saat saya ambil jurusan Manajemen Bisnis Syariah, yang ada dipikiran saya punya ekspektasi yang tinggi. Saya bukan type orang yang asal ambil jurusan. Saya sudah mempelajari kurikulum jurusan ini serta Nama-nama mata kuliahnya. Wooowww banget. Saya optimis kalau jurusan ini mencetak calon pebisnis Handal.

Kenyataannya beda, isi konten perkuliahan sangat jauh dari realitas kondisi Ekonomi dan Bisnis yang ada di luar kampus. Malah isinya semacam kita di doktrin untuk mengurus bisnis corporate besar yang sudah ada. Jelas arah kurikulum ini mengarahkan kita hanya sebagai akademisi (dosen masa depan) dan sebagai pengelola perusahaan besar yang sudah punya sistem canggih. Pola nya sama kan???. Sama sekali kita tidak diajari cara berbisnis sendiri. Padahal jurusan bisnis harusnya ya praktek bikin bisnis. Creator bisnis. Membesarkan bisnis.

Saya langsung menyadari ini, saya melayangkan kritik sistematis dan konstruktif kepada pihak fakultas. Birokrat hanya mengangguk tapi tak kunjung ada perbaikan. Dikelas saya paling lantang bicara. Sampai beberapa dosen enggan mengajar di kelas saya. Saya simpulkan memang desain awal jurusan bisnis seperti ini. Mengurus bisnis corporate besar. Punya mereka-mereka juga.

Ya wajar jumlah Entrepreneur di Indonesia ini sedikit. Memang begitu keadaannya. Beberapa dosen bicara pada saya untuk menerima saja apa yg diberikan kampus. Kalau mau cari ilmu lebih diluar saja. Saya menolak. Saya akan melawan dengan cara yang baik. Setidaknya sama seperti sultan Agung yang melawan meskipun akhirnya kalah. Tapi, setidaknya teman - teman lain jadi sadar. Kesadaran ini yang mahal.

Begitu banyak orang pintar di negeri ini tapi impactnya blm begitu kelihatan. Banyak yang menyalahkan orang pinter nya. Banyak yang menyalahkan pemerintah. Saya gak sepakat dengan ini. Sekali lagi ini memang desain. Negara ini blm ramah untuk orang pintar berkarya. Sampai ada yg bilang mending biasa saja daripada pintar tapi "minteri". Ya gak gitu juga.

Saya kasih contoh yang mudah dipahami. Di negara ini hampir semua jenjang pendidikan untuk mengukur kemampuan seseorang menggunakan ujian tulis berupa "Multiple Choice". Kita dipaksa memilih satu jawaban yang benar diantara jawaban yang sudah "Dipilihkan" oleh yang membuat soal. Secara tidak sadar cara ini juga yang akan kita pakai untuk menyelesaikan masalah. Generasi "Multiple Choice" ini susah untuk berfikir dalam hal Problem Solving. Coba saja tanya ke banyak pelajar. Mereka lebih suka dengan ujian model Multiple Choice ketimbang essay. Dari kecil sih kita dibiasakan gini. Mulai sadar yaa. Halus banget broo. Generasi Multiple Choice ini lebih banyak penurut kalau kerja di perusahaan besar. Karena jawaban setiap permasalahan sudah "dipilihkan". Tinggal milih.

Beda dengan UMKM kita harus Fight dalam menyelesaikan masalah. Ini kita tidak terbiasa sebagai generasi Multiple Choice. Di UMKM kita harus biasa menyelesaikan masalah dengan essay. Memungkinkan kita untuk mengambil keputusan sendiri dengan banyak jawaban yang sebelumnya tidak terpikirkan dan belum pernah ada.

Kok mas elga tau sih? Saya lulusan Keguruan juga dari salah Satu Universitas Negeri. Saya ini gila. Lintas bidang keilmuan. Memang sebagai guru juga susah mengukur dengan angka bila siswa menggunakan jawaban essay. Lebih mudah jawaban Multiple Choice. Berapa yang benar, berapa yang salah. Tinggal dinilai beres.

Seharusnya di Jurusan bisnis itu metode pembelajarannya menggunakan PROJECT BASE LEARNING (Pembelajaran Berbasis Proyek). Ini penelitian saya. Chek di google. Ada abstrak dan hasil penelitian nya. Mahasiswa harusnya diminta membuat proyek bisnis. Harus sering2 menghadapi masalah bisnis. Dijamin deh lulus punya bisnis masing2. Gak akan kaget dan kaku dalam bisnis.

Sekarang Jurusan bisnis masih pakai model pembelajaran ceramah di kombinasikan dengan bikin makalah dan diskusi. Yealllahhhh pantes gak bisa bisnis.

*****

Kita ini memang di desain tidak untuk Berdaya di Negeri Sendiri. Seperti kata pak Kwik Kian Gie sang mantan Menko Ekuin, dalam Indonesia Business Forum. Bahwa memang Indonesia di desain untuk dibangkrutkan. Yang di incar bahan baku sumber daya alam.

Saya usul pada Pengurus Pusat SSN harus lebih banyak kader SSN yang ada di kampus. Menyadarkan dari bawah. Atau perlu ada SAUDAGAR MUDA NUSANTARA. Sebagai Underbow SSN.
Pendidikan adalah KOENTJI.

AYOOOOOO LAWAAANNN BERSAMA.

Kita tumbangkan KAPAL VOC gaya baru ini dari bawah.

Elga Aris Prastyo,
Belajar jadi Teknokrat, Founder Workshop Electronics 3 in 1 dan Indoniaga Technology.
Belajar jadi Entrepreneur, Founder Entrepreneur Media Indonesia.
Share: